Senin, 11 Januari 2016

KAIDAH BID'AH VERSI WAHABI I

Kaidah bid'ah versi Wahabi :
Suatu ibadah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya sementara pendorongnya ada dan penghalangnya tidak ada maka hukumnya bid'ah.

Penjelasan :
Ketika pendorongnya telah ada dan penghalangnya tidak ada namun tidak dilakukan oleh para shahabat, menunjukkan bahwa perbuatan tersebut tidak disyari'atkan.

Banyak ulama yang berdalil dengan akan kebid'ahan suatu perkara dengan alasan tidak adanya shahabat yang melakukannya.

Praktek Kaidah

Diantara contoh kaidah ini adalah:
Bid'ah perayaan maulid, isra' mi'raj, dll.

Pendorong melakukan perayaan maulid adalah cinta Rasul, dan pendorong ini ada pada para shahabat, mereka adalah generasi yang paling mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Penghalangnya pun tidak ada, mereka mampu melakukan itu, terlebih mereka adalah kaum yang paling semangat kepada kebaikan. Bila hal itu baik tentu para shahabat telah melakukannya dan menjelaskannya kepada umat.

""""""""""""""""""""""""""""
TANGGAPAN
"""""""""""""""""""
Kaidah di atas adalah kaidah yang dijabarkan oleh Ibnu Taimiyyah, sebagaimana yang kami faham dalam kitab kitab beliau seputar pembahasan bid'ah.
""""""""""""""""""""""""

Praktek amalan (ibadah) yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat (atau pernah, cuma kita yang belum mengetahuinya) tidak serta merta dihukumi dlolalah (sesat). Kalau hanya diistilahkan dengan bid'ah, kami pun setuju, sebab dalam aswaja bid'ah tidak mesti dlolalah.

Dalam kaidah ushul, mungkin dari kita ada yang pernah mendengar kaidah yang berbunyi:

ﺍﻟﺘﺮﻙ ﻻ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺍﻟﺘﺤﺮﻳﻢ

" Meninggalkan suatu perkara tidak menunjukkan bahwa perkara tersebut sesuatu yang haram".
Artinya, para sahabat tidak melakukan suatu perkara tidak berarti kemudian perkara tersebut sebagai sesuatu yang haram.

Dan juga tidak ada hadits yang menjelaskan bahwa "tarku (meninggalkan)" ini hukumnya adalah haram atau makruh. Sehingga meninggalkan suatu perkara ini tidak bisa menetapkan hukum haram atau makruh, hanya sebatas bolehnya untuk ditinggalkan.
Hukum haram ini hanya bisa ditetapkan dengan dalil Al Qur'an, hadits, ijma' dan qiyas, sedangkan " tarku " tidak masuk dalam salah satunya.

Sebagaimana perkataan imam Syafi'i ra. :

ﻛﻞ ﻣﺎ ﻟﻪ ﻣﺴﺘﻨﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻉ ﻓﻠﻴﺲ ﺑﺒﺪﻋﺔ ﻭﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻪ ﺍﻟﺴﻠﻒ

Segala sesuatu yang ada landasannya dari syara' itu bukanlah bid'ah (dlolalah), meskipun ulama salaf tidak pernah melakukannya

Demikian, dikarenakan tidak melakukannya mereka itu mungkin tercegah oleh suatu hal, atau ada hal yang lebih utama, atau mereka belum tahu, atau mungkin tidak pernah terlintas dalam benak mereka.

Saya contohkan seperti perayaan Maulid yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad SAW. dan ulama salaf. Apakah bisa dipastikan ketiadaan tersebut disebabkan karena haram untuk dilaksanakan. Padahal ketiadaan (peninggalan) ini tidak bisa untuk langsung divonis haram atau makruh.
Bahkan bisa saja, perayaan maulid nabi ini sudah ada sejak ulama salaf, hanya saja prakteknya tidak seperti sekarang ini yang modelnya dibuat berjamaah sehingga nampak ramai dan meriah. (Mungkin - mungkin saja).
Sehingga, sangat dini untuk memvonis mauludan adalah bid'ah dlolalah, sebab ada faktor pendorong tidak ada faktor penyegah tapi tidak pernah ditemukan dalam masanya ulama salaf.

Ingat!, metode perayaan maulud yang modelnya seperti sekarang ini bisa jadi tidak pernah terbelesit dalam benak ulama salaf. Tapi belum pernah kita temukan teks tegas dan jelas dari ulama salaf yang mengharamkan perayaan mauludan. Dan sangat gegabah menyatakan ulama salaf tidak ada satupun yang memperingati muludan meski dengan cara yang tidak sebagaimana sekarang ini.

Jangan suka menvonis hukum haram. Abdullah bin Umar ra. berkata:

إن المسلم لا يجوز له أن يتجرأ على الحكم بالتحريم الا بدليل صريح من الكتاب او السنة

Seorang muslim tidak diperkenankan baginya untuk berani-berani menghukumi haram kecuali dengan menggunakan dalil sharih dari Al Qur'an atau Sunnnah.

Ibrahim An Nakhai (tabiin) berkata:

ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻜﺮﻫﻮﻥ ﺍﺷﻴﺎﺀ ﻻ ﻳﺤﺮﻣﻮﻧﻬﺎ

Mereka (ulama salaf) tidak menyukai beberapa perkara, tapi tidak lantas mereka mengharamkannya.

Begitu juga dengan Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad, mereka sangat berhati-hati dalam menggunakan istilah " haram " pada perkara yang belum yakin dan jelas keharamannya. Paling banter mereka menggunakan kalimat " ﺍﻛﺮﻩ ﻛﺬﺍ (saya membencinya), tidak lebih.

Berhati-hatilah dalam menentukan hukum haram, sebab dikhawatirkan akan masuk dalam firman Allah SWT yang berbunyi:

ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام ليفتروا على الله الكذب

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.(Q S An-Nahl : 116)

Bersambung ........

M. Harsandi Kudung Kanthil
PP Al Falah Ploso Mojo Kediri
11 Januari 2016

Rabu, 07 Januari 2015

ANTARA MAULID NABI VS MAULID ULAMA MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

1. Ibn Utsaimin berkata :



ابن عثيمين الاحتفال بمحمد ابن عبد الوهاب أسبوع جائز والاحتفال برسول الله بدعة

"Perayaan Maulid Muhammad ibn 'Abdil Wahhab diperbolehkan, sedangkan perayaan (Maulid) Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wasallam adalah Bid'ah



Dalam Kitab Majmu' Fatawi Wa Ar-Rosaa-il karya Gusti kanjeng Syaikh Muhammad Shalih 'Utsaimin Jilid VI bab Sholat 'Idain disebutkan, bahwasanya terjadi tanya jawab antara seorang penanya dan beliau rahimahullah :

من الأفضل عند الوهابية: سيدنا " محمد بن عبد الله " صلى الله عليه وسلم ، أم " محمد بن عبد الوهاب " ؟؟


محمد بن عبد الوهاب !!!
يجوز له مالا يجوز لهادي الأمم ومجلي الظلم صلى الله عليه وسلم ؟؟


مالكم كيف تحكمون ؟؟

وفي رده العجب العجاب حيث يقول أن الاحتفال في أسبوع محمد أبن عبد الوهاب يزيل الشبهات في نفوس الناس للتعريف به!!


ونقول من أولى يا ابن عثيمين بإزالة هذه الشبهات عنه محمد ابن عبد الوهاب؟!, أم سيدنا محمد ابن عبد الله صلى الله عليه وسلم؟؟


الفتوى لابن عثيمين وقد قال مثلها أيضا ابن باز!!!!!!!!!!


س. ما الفـرق بين ما يسمى بأسبوع الشيخ محمد بن عبدالوهاب رحمه الله تعالى، والاحتفال بالمولد النبوي حيث يُنكر على من فعل الثاني دون الأول؟


المفتي المزعوم: محمد بن صالح العثيمين


الإجابة:الفرق بينهما حسب علمنا من وجهين:الأول: أن أسبوع الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله تعالى لم يُتخذ تقرباً إلى الله عز وجل، وإنما يُقصد به إزالة شبهة في نفوس بعض الناس في هذا الرجل ويبين ما منَّ الله به على المسلمين على يد هذا الرجل.


الثاني: أسبوع الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله لا يتكرر ويعود كما تعود الأعياد، بل هو أمر بين للناس وكتب فيه ما كتب، وتبين في حق هذا الرجل ما لم يكن معروفاً من قبل لكثير من الناس ثم انتهى أمره


Penanya :
Siapakah yang lebih utama menurut kaum Wahabi ?
Sayyidina Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam atau Muhammad Bin Abdul Wahhab ?


Ibnu 'Utsaimin menjawab :
Muhammad Bin Abdul Wahhab !!!
Diperbolehkan baginya apa apa yang tidak diperbolehkan bagi sang petunjuk umat kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Penanya :
Apa (yang terjadi), bagaimana kalian menghukumi (seperti itu) ?

Jawabannya sangat menejutkan :


Ibnu 'Utsaimin menjawab :
Sesungguhnya perayaan pekan Muhammad Ibn 'Abdil Wahhab dapat menghilangkan beberapa syubhat dari hati manusia supaya mereka mengenalnya


Kami (penanya) bertanya lagi :
Manakah yang lebih utama wahai Ibnu 'Utsaimin, menghilangkan syubuhaat sebab Muhammad Ibn 'Abdil Wahhab atau sebab Sayyidina Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam ?
Perkataan Ibnu 'Utsaimin ini senada dengan perkataan gusti kanjeng Syaikh Bin Baz.



Soal :

Apa perbedaan antara pekan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah dan maulid Nabi ?
Dimana yang kedua diingkari dan yang awal tidak ?

Mufti penjawab : Muhammad Ibn Shalih 'Utsaimin

Jawab :
Perbedaan keduanya adalah karena dua alasan :

1. Sesungguhnya pekan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah tidak dijadikan sarana taqorrub (mendekatkan diri kepada Allah), namun tujuannya adalah untuk menghilangkan syubhat sebagian orang mengenai orang ini (gusti kanjeng Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab:ed), sekaligus menjelaskan bahwasanya pertolongan Allah atas kaum muslimin ada di tangan orang ini (gusti kanjeng Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab:ed)

2. Pekan Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab rahimahullah tidak berulangkali sebagaimana hari raya lainnya (maksudnya wahaboy maulid, isra mi'raj dll), tapi merupakan perkara yang sangat penting yang perlu dicatat bagi manusia, dan sebagai sarana menjelaskan bagi yang belum mengenal orang ini sebelumnya, karena banyak orang yang belum mengenalnya.

Selesai.

(Dipromosikan macem bintang film aja pak min, kalau ulama beneran mah nggak perlu yang begituan :D)

Silakan baca langsung kitabnya di : ابن عثيمين: الاحتفال بمحمد ابن عبد الوهاب جائز والاحتفال برسول الله بدعة






2. Fatwa Bin Baz yang MENGHUKUMI WAJIB perayaan pekan gusti kanjeng syaikh yang mulia Muhammad Bin Abdul Wahhab :



أيها الإخوة الكرام، إن الاجتماع لدراسة مذهب السلف الصالح ومنه دعوة الشيخ محمد بن عبد الوهاب، وتعريف الناس بها، وحثهم على الاستمساك بما كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحابته الكرام وسلف هذه الأمة أمر واجب ومن أعظم القرب إلى الله ؛ لأنه تعاون على الخير، وتشاور في المعروف، وبحث للوصول إلى الأفضل

Saudara sekalian yang mulia, sesungguhnya berkumpul dalam rangka mempelajari madzhab salaf as-sholih yang diserukan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab, mengenalkannya (dakwah MBAW) kepada manusia, dan mengajak mereka selalu berpegang kepada ajaran yang dibawa Gusti kanjeng Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabatnya yang mulia dan para ulama salaf merupakan perkara yang wajib dan sebagian dari taqorrub yang paling agung kepada gusti Allah Subhanahu Wata'ala, karena ini merupakan tolong menolong dalam kebaikan (versi wahabi), bermusyawarah dalam kebaikan, dan berdiskusi menuju yang lebih utama ..... dst

Sambutan Simbah Bin Baz bisa dibaca langsung disini



PERAYAAN PEKAN MAULID MBAW WAJIB ?

APA IYA .............. :D



Imam Tontowi

66253

Senin, 05 Agustus 2013

SHOLAT : HUKUM SHOLAT 'IED DALAM PERSPEKTIF LINTAS MADZHAB

بسم الله الرحمن الرحيم

Hukum sholat 'Ied para ulama berbeda pendapat mengenai hukum nya

1. Menurut Gusti Kanjeng Al-Imam -ay-Syafi'ie maupun Ash-habnya hukumnya sunnah mu-akkad, dan ini adalah juga merupakan kesepakatan semua ulama Syafi'iyyah,begitu juga 3 madzhab lain dan madzhab Adz-Dzohiri yang juga sejalan dengan hukum kesunahan ini .
Terkait ada sekelompok umat anti madzhab (dengan jargon mereka Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah) yang mengaitkan fatwa Al-Imam Asy-Syafi'i yang secara dhohir dipahami tentang wajib 'ainnya hukum sholat 'ied, insya Allah nanti akan dibahas dibawah.
2. Menurut Abu Sa'id Al-Ishthohri hukumnya fardlu kifayah, dengan kata lain apabila salah seorang saja ada yang sudah melaksanakan sholat 'ied maka gugur kewajiban penduduk ahli balad lainnya, namun apabila tidak ada satupun yang melaksanakannya maka dosa semua penduduk dan menurut syar'ie wajib diperangi (Majmu' Lin-Nawawi V/ 03)
Pendapat ini juga didukung oleh sebagian ulama Hanafiyah dan sebagian ulama madzhab Imam Ahmad .
Setidaknya ini adalah qoul qoul yang terdapat dalam kitab Syafi'iyyah .

Dasar hukum :

Dalam Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab V / 3 disebutkan :

قال المصنف رحمه الله تعالى: صلاة العيد سنة، وقال أبو سعيد الاصطخري هي فرض على الكفاية والمذهب الأول، لما روى طلحة بن عبيد الله رضي الله عنه: «أن رجلاً جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلّم يسأله عن الإسلام، فقال: خمس صلوات كتبهن الله على عباده، فقال هل عليَّ غيرها؟ قال: لا إلاّ إن تطوع
Berkata kyai mushonnif rohimahulloh ta'ala : Sholat 'Ied itu hukumnya sunnah (dalam banyak kitab lain sunnah mu-akkad), dan ini adalah qoul resmi dalam madzhab Syafi'iyyah, sedang menurut Abu Sa'id Al-Ishthohri hukumnya fardlu kifayah, berdasarkan hadits dari Tholhah Ibn 'Ubaidillah R.A : Sesungguhnya ada seorang laki laki datang kepada Rasulullah shollallaahu 'alaihi wasallam dan bertanya tentang islam, lalu Rasulullah bersabda : "Sholat lima waktu telah ditetapkan oleh Allah untuk hamba hambanya" , lalu laki laki bertanya : Apakah ada yang lain ? , Rasulullah menjawab : "Tidak ada, (sholat) yang lain adalah sunnah" .(الشرح: حديث طلحة رواه البخاري ومسلم، )

Sekaligus kami disini ingin menjelaskan maksud tulisan kami disini adalah dalam rangka untuk menafikan anggapan bahwa hukum sholat 'Ied adalah fardlu 'ain seperti yang telah disangkakan sebagian golongan anti madzhab yang telah kami singgung diatas .
Yang ada justru sebagian ulama menghukumi fardlu kifayah, bukan fardlu 'ain.

Hal ini berdasarkan banyak fatwa diantaranya

وأجمع المسلمون على أن صلاة العيد مشروعة وعلى أنها ليست فرض عين، ونص الشافعي وجمهور الأصحاب على أنها سنة، وقال الاصطخري : فرض كفاية، فإن قلنا: فرض كفاية قوتلوا بتركها، وإن قلنا: سنة لم يقاتلوا على أصح الوجهين

Dalam Majmu' Lin-Nawawi (V / 3) disebutkan : Telah menjadi kesepakatan ulama bahwa sesungguhnya sholat 'ied adalah sholat yang masy-ru'ah, akan tetapi bukan fardlu 'ain, Al-Imam Asy-Syafi'ie dan Ash-habnya menetapkan sesungguhnya hukumnya sunnah, sedang menurut Al-Ishthohri hukumnya fardlu kifayah dst ...

Keterangan dalam kitab lain silakan diterjemah sendiri yah .... (penulis juga manusia, jarinya pegel :D)

Roudlotut Tholibin II / 3

كتاب صلاة العيدين هي سنة على الصحيح المنصوص . وعلى الثاني: فرض كفاية. فإن اتفق أهل بلد على تركها، قوتلوا إن قلنا: فرض كفاية. وإن قلنا: سنة، لم يقاتلوا على الأصح،

Minhajul Qowim I / 263

(هي سنة) مؤكدة على كل مكلف وإن لم تلزمه الجمعة، فلا إثم ولا قتال بتركها، وتسن حتى للحاج بمنى لكن فرادى لا جماعة

Mughnil Muhtaj I / 421

(هي سنةٌ) لقوله للسائل عن الصلاة: «خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى عِبَادِهِ» . قال له: هل عليّ غيرها؟ قال: «لاَ إِلاَّ أن تطوَّعَ» . ( مؤكدة) لمواظبته عليها. (وقيل فرض كفاية) نظراً إلى أنها من شعائر الإسلام ولأنها يتوالى فيها التكبير فأشبهت صلاة الجنازة، فإن تركها أهل البلد أثموا وقُوتلوا على الثاني دون الأول. وأجمع المسلمون على أنها ليست فرض عين

Dan masih banyak lagi kitab kitab lain yang intinya sama dangan kitab kitab diatas.

Terkait Dhawuh dari Gusti Kanjeng Al-Imam Asy-Syafi'ie yang sering dipakai hujjah golongan anti madzhab sebagaimana yang kami nuqil dari sebuah artikel :

"Al-Imam Asy-Syafi’I mengatakan dalam Mukhtashar Al-Muzani: “Barangsiapa memiliki kewajiban untuk mengerjakan Shalat Jum’at, wajib baginya untuk menghadiri shalat 2 hari raya. Dan ini tegas bahwa hal itu wajib ‘ain.”

Kami menemukan sedikit keterangan tentang maksud dari dhawuh beliau sebagai berikut :

Masih dalam Majmu' Lin-Nawawi V / 3 disebutkan

وأما قول الشافعي في «المختصر» (من وجب عليه حضور الجمعة وجب عليه حضور العيدين) فقال أصحابنا: هذا ليس على ظاهره، فإن ظاهره أن العيد فرض عين على كل من تلزمه الجمعة، وهذا خلاف إجماع المسلمين، فيتعين تأويله، قال أبو إسحاق : من لزمته الجمعة حتماً لزمه العيد ندباً واختياراً، وقال الاصطخري معناه من لزمته الجمعة فرضاً لزمه العيد كفاية، قال أصحابنا: ومراد الشافعي أن العيد يتأكد في حق من تلزمه الجمعة.

Adapun dhawuh dari Gusti Kanjeng Al-Imam Asy-Syafi'ie yang terdapat dalam kitab Al-Muhtashor Al-Muzani : "Barang siapa memiliki kewajiban untuk menghadiri sholat jum'at maka wajib baginya untuk menghadiri sholat dua hari raya" , Terkait dhawuh ini Ash-habul Muallif kitab dhawuh : Dhawuh dari Gusti Kanjeng Al-Imam Asy-Syafi'ie ini maksudnya tidak seperti dhohirnya, maksud dhohirnya adalah Sesungguhnya sholat 'ied itu hukumnya fardlu 'ain bagi setiap orang yang terkena kewajiba sholat jum'ah, kalau diartikan secara textual tentu akan menyelisihi ijma' (kesepakatan) kaum muslimin .

Maksud dari dhawuh itu adalah kembali kepada ulama yang menta'wili masing masing,
Jika menurut Kanjeng Saikh Abi Ishaq maka artinya : Barang siapa dihukumi wajib 'ain untuk menghadiri sholat jum'at maka orang tersebut dihukumi sunnah untuk menghadiri sholat 'ied
Jika menurut kang Imam Al-Isthohri maka : Barang siapa dihukumi wajib 'ain untuk menghadiri sholat jum'at maka orang tersebut dihukumi wajib kifayah untuk menghadiri sholat 'ied
Menurut Ashhabun Nawawi yang dimaksud dhawuhnya Gusti Kanjeng Al-Imam Asy-Syafi'ie adalah bahwa sesungguhnya sholat 'ied itu penting dihadiri bagi orang yang punya kewajiban menghadiri sholat jum'ah .

Keterangan yang sama dalam kitab lain :

Mughnil Muhtaj I / 421

وأما قول الشافعي رضي الله تعالى عنه: إن من وجب عليه حضور الجمعة وجب عليه حضور العيدين، فمحمول على التأكيد

Syarkh Al-Bahjah pada awal baba sholat

وَحَمَلُوا نَقْلَ الْمُزَنِيّ عَنْ الشَّافِعِيِّ أَنَّ مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ حُضُورُ الْجُمُعَةِ وَجَبَ عَلَيْهِ حُضُورُ الْعِيدَيْنِ عَلَى التَّأْكِيدِ

Roudlotut Tholib bab sholat

وَحَمَلُوا نَقْلَ الْمُزَنِيّ عَنْ الشَّافِعِيِّ أَنَّ مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ حُضُورُ الْجُمُعَةِ وَجَبَ عَلَيْهِ حُضُورُ الْعِيدَيْنِ عَلَى التَّأْكِيدِ فَلَا إثْمَ وَلَا قِتَالَ بِتَرْكِهَا

Dan kitab kitab lain masih banyak lagi.

Walaahu A'lamu Bishshowaab




Imam Tontowi
66253

Selasa, 30 Juli 2013

LARANGAN BERFATWA DAN MENGELUARKAN HUKUM ATAS DASAR PEMIKIRAN SENDIRI

LARANGAN BERFATWA DAN MENGELUARKAN HUKUM ATAS DASAR PEMIKIRAN SENDIRI


Bughyatul Mustarsyidin halaman 6 Marji'ul Akbar

ـ (مسألة: ك): شخص طلب العلم، وأكثر من مطالعة الكتب المؤلفة من التفسير والحديث والفقه، وكان ذا فهم وذكاء، فتحكم في رأيه أن جملة هذه الأمة ضلوا وأضلوا عن أصل الدين وطريق سيد المرسلين ، فرفض جميع مؤلفات أهل العلم، ولم يلتزم مذهباً، بل عدل إلى الاجتهاد، وادّعى الاستنباط من الكتاب والسنة بزعمه، وليس فيه شروط الاجتهاد المعتبرة عند أهل العلم، ومع ذلك يلزم الأمة الأخذ بقوله ويوجب متابعته، فهذا الشخص المذكور المدَّعي الاجتهاد يجب عليه الرجوع إلى الحق ورفض الدعاوى الباطلة، وإذ طرح مؤلفات أهل الشرع فليت شعري بماذا يتمسك؟ فإنه لم يدرك النبي عليه الصلاة والسلام، ولا أحداً من أصحابه رضوان الله عليهم، فإن كان عنده شيء من العلم فهو من مؤلفات أهل الشرع، وحيث كانت على ضلالة فمن أين وقع على الهدى؟ فليبينه لنا فإن كتب الأئمة الأربعة رضوان الله عليهم ومقلديهم جلّ مأخذها من الكتاب والسنة، وكيف أخذ هو ما يخالفها؟ ودعواه الاجتهاد اليوم في غاية البعد كيف؟ وقد قال الشيخان وسبقهما الفخر الرازي: الناس اليوم كالمجمعين على أنه لا مجتهد، ونقل ابن حجر عن بعض الأصوليين: أنه لم يوجد بعد عصر الشافعي مجتهد أي: مستقل، وهذا الإمام السيوطي مع سعة اطلاعه وباعه في العلوم وتفننه بما لم يسبق إليه ادعى الاجتهاد النسبي لا الاستقلالي، فلم يسلم له وقد نافت مؤلفاته على الخمسمائة، وأما حمل الناس على مذهبه فغير جائز، وإن فرض أنه مجتهد مستقل ككل مجتهد ـ اهـ بغية المسترشدين ص ٦ المرجع الأكبر

Masalah

Ada orang orang yang pandai dan cerdas, dia banyak mempelajari kitab kitab karangan ulama salaf, baik itu tafsir, hadits, maupun ilmu fiqih, kemudian mereka menghukumi suatu masalah dengan ro'-yu (pendapatnya) sendiri, maka orang yang seperti ini adalah orang yang sesat dan menyesatkan yang justru menjauhkan dari pokok agama yang benar dan jalan Gusti Kanjeng Nabi SAW

Mereka menolak kitab kitab ulama salaf yang yang notabene adalah ahli ilmu, mereka menyuarakan tentang tidak wajibnya bermadzhab dan mengarahkan kepada pemahaman agama dari hasil ijtihad sendiri, mereka mengaku ngaku beristinbath langsung kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman sendiri, sedang mereka tidak memenuhi kriteria syarat syarat berijtihad yang sudah masyhur bagi ahli ilmu, mereka mewajibkan masyarakat untuk mengikuti hasil ijtihad mereka
Maka untuk orang orang yang seperti diatas (yang mengaku ngaku berijtihad langsung / menggali hukum langsung dari Al-Qur'an dan Sunnah diatas) wajib atas mereka bertobat dan kembali kepada jalan kebenaran (sesuai pemahaman mayoritas ulama salaf) dan masyarakat wajb menolak ajakan mereka yang bathil.

Apabila kitab kitab karangan para ulama salaf dikesampingkan (tidak dipakai), maka dengan apa seseorang memahami agama ini yang selanjutnya dipakai untuk pedoman hidup ?
Padahal dia tidak bertemu langsung dengan Gusti Kanjeng Nabi SAW, juga tidak bertemu dengan para Sahabat Nabi ,
Bila kebetulan dia mempunyai sesuatu kitab karangan ulama salaf lalu dia mempelajarinya sendiri, lalu dalam proses memahami kitab tersebut dia salah pemahaman , maka kepada siapa dia akan minta petunjuk untuk membenarkan pemahamannya ? Silakan jelaskan kepada kami ...

Sesungguhnya kitab kitab karangan para Imam Agung empat Madzhab dan para ulama yang taqlid (mengikuti) kepada mereka, ma'khodznya adalah Al-Qur'an dan Sunnah,
Bagaimana proses ijtihadnya sehingga menyelisihi pendapat pendapat mereka ?
Kenapa mereka mereka yang saat ini mengaku ngaku berijtihad langsung dan kembali kepada Al-Qur'an da Sunnah menghasilkan pendapt dan pemikirang yngsangat jauh dari para Imam Agung yang empat diatas ?

Berkata Asy-Syaikhoni dan pendahulu mereka Al-Fakhrur Rozi : Manusia jaman sekarang ini ibarat perkumpulan banyak orang hanya saja tidak ada mujtahid di dalamnya.
Kanjeng Syaikh Ibnu Hajar menuqil fatwa dari sebagian para Ahli Ushuluddin : Sesungguhnya setelah kurun masa Gusti Kanjeng Imam Syafi'i tidak ditemukan lagi seorangpun yang mencapai derajat mujtahid mustaqil (Mujtahid yang menggali langsung Al-Qur'an da Sunnah).

Contoh terdekat , Gusti Kanjeng Imam As-Suyuthi yang dikenal luas ilmunya dan mengusai berbagai fan ilmu, beliau berijtihad dengan nisbi (mengikuti pendapat dari Gusti Kanjeng Imam Syafi'i), bukan seorang mujtahid mustaqil, kenapa beliau tidak berani ? padahal kitab kitab karangan beliau sangat banyak , tidak kurang dari 500 (lima ratus) kitab .

Sesunguhnya orang orang yang menggali hukum sendiri seperti layaknya seorang mujtahid mustaqil dan menganggap hasil ijtihad mereka benar , hal itu tidak diperbolehkan, walaupun mereka memastikan bahwa mereka adalah seorang mujtahid mustaqil, seperti layaknya mujtahid jaman dahulu.







Imam Tantowi
66253

Senin, 03 Juni 2013

TUHFATUR ROHABAH JUZ I

PENDAHULUAN

BAB I : THAHARAH

BAB II : NAJASAH

BAB III : WUDLU

BAB IV : TAYAMMUM

BAB V : MANDI

BAB VI : SHOLAT

BAB VII : SHOLAT SUNAH

BAB VIII : JAMA' DAN QOSHOR

BAB IX : ADZAN DAN IQOMAH

BAB X : SHOLAT JAMA'AH

BAB XI : SHOLAT JUM'AH

BAB XII : JANAZAH

BAB XIII : ZAKAT

BAB XIV : PUASA

BAB XV : HAJI

BAB XVI : JUAL BELI

BAB XVII : MU'AMALAH

BAB XVIII : WAQOF

BAB XIX : NIKAH

BAB XX : MASA-ILUS SYATTA

تمّت تحفة الرحبة الجزء الأول بعون الله

BAB XX : MASA-ILUS SYATTA

1. Sucinya Ari Ari Yang Keluar Bersama Bayi

2. Hukum Sucinya Anak Manusia Vs Anjing / Babi

3. Hukum Sucinya Bayi Manusia Berbentuk Anjing

4. Anjing Laut Halal ?

5. Hukum Telur Dalam Bangkai

6. Hukum Membunuh Kutu, Dsb Di Dalam Masjid

7. Hukum Meminum Obat Penggugur Kandungan

8. Hukum Mencari Ikan Disawah Orang Lain

BAB XIX : NIKAH

1. Bolehkah Memaksa Anak Untuk Menikah Dengan Pilihan Orang Tua ?

2. Hukum Kawin Lari

3. Hukum Janda Menikah Saat Hamil

4. Hukum Ngaku Ngaku Telah Meruju' Istri

5. Hukum Hadirnya Wali Pada Akad Nikah Yang Diwakilkan

6. Rusaknya Nikah Sebab Wathi Syubhat Anaknya

7. Hukum Nikah Mengikuti Imam Dawud Adh-Dhohiry

85. HUJAN SAAT SHALAT JUM'AT DIJALAN

📚🅜🅐🅢🅐🅘🅛 🅢🅐🅝🅣🅡🅘📿 PERTANYAAN Kang santri yang shalat jum'atnya di jalan raya tiba-tiba turun hujan. Apa yang harus dilak...